Dan Malam Tak Pernah Panjang

1 Juli 2016 § Tinggalkan komentar

Kemarau mulai usai dan aku meneduh di tatapmu serupa bocah yang baru rekah dan lincah serta bungah. Pada hati yang membunga. Pada getar yang mendebar. Pada hari yang tak lagi getir.

Hari tak sedang menghujan, tapi aku kebas pada rindu yang tak kunjung lepas pada malam yang tidak pernah panjang dan tanganmu yang dingin berkeringat. Dan kita saling menjebaki diri masing-masing dengan bunyi-bunyi sunyi dan tatap yang teratap. Yang enggan juga sungkan.

Dan kita masih di sana, di malam yang tak panjang, duduk bersampingan, di bawah langit-langit kafe yang menyepi dipeluki larut. Serupa asing, aku membacai tubuhmu lekat-lekat di waktu yang kelewat rekat. Merapali cerita-cerita yang berjejal di antara kita yang masih ganjil. Yang berusaha menggenap, lewat tanya yang kelewat banyak.

Dan malam memang tak pernah panjang bagi kita yang mendamba. Dan menghamba.

Kami

16 Juni 2016 § Tinggalkan komentar

Kami serupa pejalan yang baru tiba di kota yang kami namai sendiri tanpa tergesa. Kota yang malamnya kerap terjulur lebih panjang dari siang yang tampak jarang. Malam-malam panjang yang menjebak kami dalam percakapan yang tidak begitu genting. Setidakpenting percakapan kami tentang betapa ingusannya kami di kemarau yang kerap basah dan jalanan yang meresah. Dan kami masih saja saling sibuk mengisi-isi kolong-kolong kosong yang tersembunyi di dada-dada kami yang masih kerap dikarib-karibkan, yang masih mendetak saling tak karuan saat mata-mata kami saling dipaut-pautkan. Seperti bocah yang ganjil, kami menggenap pada kisah-kisah yang kami julurkan sendiri. Pada rindu-rindu yang diruwat dan ingatan-ingatan yang dirawat. Kami menggenap pada hari-hari yang kelewat rekat dan pekat.

Sajak tentang Sejak

24 Mei 2016 § Tinggalkan komentar

Saya sudah menyerah sejak lama. Sejak kamu hanya menjadi nama. Sejak kamu jadi entah siapa. Sejak kamu meramu jemu pada saya. Sejak kamu mengadakan dia tibatiba. Sejak rentang semakin menjarak. Sejak saya tidak lagi bijak. Sejak kamu tidak lagi teduh dan saya mulai mengaduh.

Lalu, kamu kemudian bertandang dan mengetuki saya lagi setelah saya mereguk teguh sejauh ini? Setelah saya lupa pada ruparupa kita? Setelah kita terbelahbelah. Kamu ketuk paling kutuk. Bentuk paling kantuk. Buruk dan maruk.

Saya sudah menyerah sejak lama. Sejak saya jadi berdaya pada maya yang tak nyata. Sejak saya sudah tegak. Sejak saya mulai begah pada desah yang resah, pada tangis yang bengis, pada degup yang redup.

Sejak saya menemu dia.

 

Tentang Ingatan, Ibu, dan Hari Kemarin

7 April 2016 § Tinggalkan komentar

Malam kemarin, saya terlelap begitu saja. Kalah oleh lelah yang makin kian tak berujung. Makin tidak terbendung. Dan dewasa ternyata hanyalah perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan, kadang-kadang. Dan malam kemarin, saya melupakan satu hal, hari pertambahan usia Ibu.

Agaknya, mengingat hal-hal yang tidak menjadi tradisi memang agak susah. Di keluarga saya, pertambahan usia tidak pernah dirayakan. Tidak ada ucapan atas menuanya masing-masing kami. Tidak ada hadiah. Tidak ada apa-apa. Hari pertambahan usia diperlakukan layaknya hari-hari lainnya. Biasa saja. Dan begitulah, sepanjang tahun kami membiarkan hari pertambahan usia dari masing-masing kami dengan perasaan yang tidak meledak-ledak, dengan perasaan yang biasa saja.

Rasanya kok tetap agak kurang ajar ya, bisa-bisanya melupakan hari pertambahan usia Ibu. Ya, meski teringat pun, hari kemarin akan tetap sama. Tanpa ucapan. Tanpa perayaan. Apalagi hadiah. Namun, setidaknya, ingatan terhadap hal-hal semacam ini, baiknya dirawat dan dijaga kerap-kerap.

Karena, entah, bagi saya, Ibu saya adalah karib terbaik saya. Satu-satunya tempat saya cerita segala macam. Segala perkara. Segala kisah, bungah dan begah, resah dan desah. Rasanya, semakin bersalah pada hari kemarin. Pada kealpaan yang semakin menjadi. Pada diri yang semakin ngawur.

Tulisan saya mendadak sendu. Barangkali, saya sedang rindu. Pada Ibu. Yang di hari kemarin, saya lupakan hari pertambahan usianya. Absurd memang.

Tentang Rindu

4 Maret 2016 § Tinggalkan komentar

Mari bercerita. Tentang rindu. Sekali-sekali saja.

Jadiā€¦.

Kata seorang teman baik, hidup itu cuma sekadar menanggung rindu, yang candu. Pada entah siapa. Pada entah apa. Setahu saya, tentu saja bukan pada mereka yang hanya datang dan meradangkan suka, lalu luka. Bukan. Bukan juga mereka yang hanya datang sebentar-sebentar. Bukan. Tapi, masih saja, entah pada siapa atau apa.

Kata seorang teman baik, kadang hidup juga hanya tampung-menampung rindu yang entah akan kapan menyusut. Entah akan kapan surut. Entah kapan.

Kata seorang teman baik, kadang hidup juga hanya antaran dari rindu satu ke rindu lainnya. Yang saling menyisa. Yang saling menanggalkan sisa-sisa rasa. Yang tak kunjung menemu ujung. Yang kunjung tak mampu dibendung. Yang perlu dikuras, meski tak kunjung tuntas. Ya, rindu memang candu yang perlu ditandu, kadang-kadang.

Kata seorang teman baik, rindu kadang-kadang bisa sial juga. Bikin kesal dan sesal. Kesal sesesal-sesalnya. Sesal sekesal-kesalnya.

Dan, kata seorang teman baik, kadang rindu bisa datang begitu saja. Tanpa aba. Tetiba saja. Pada dia. Yang asing. Yang entah siapa. Yang entah di mana.

Dan, saya masih saja hidup, menanggung rindu, menampung rindu, yang sial, yang asing, yang begitu saja, pada kamu, yang entah siapa.

Pagi yang Terlalu Pagi

22 Februari 2016 § Tinggalkan komentar

Pagi masih terlalu pagi. Matahari masih menyamar di sebalik awan yang merindang. Masih tidak tahu apakah akan menghujan atau menerikkan hari. Dan pagi masih begitu muda juga asing. Semuda kamu dan saya. Seasing kamu dan saya. Sebegitunya.

Dan kamu terus saja mengisi saya dengan deru-deru yang kadang melemah. Kadang meradang. Kadang regang. Kadang senggang. Kadang senang yang tenang. Kadang ragu yang gagu.

Kadang

rindu

yang

ambigu.

Senin Pertama

4 Januari 2016 § Tinggalkan komentar

Dan saya memulai Senin pertama di 2016 dengan segan yang enggan. Dengan entah yang antah. Dengan lagu yang ragu. Dengan degup yang gugup. Dengan basah yang resah. Dengan cinta yang renta. Dengan detak yang retak. Dengan rasa yang basa. Dengan tunggu yang ganggu. Dengan mata yang rata. Dengan nama yang koma. Dengan dengar yang bingar. Dengan bungah yang jengah. Dengan temu yang semu.

Dengan kamu

yang

jemu.

Dan Senin yang pagi adalah hal yang tidak pernah selesai dikunjungi. Dan Senin yang pagi adalah hal yang tidak pernah selesai diruwati. Dan Senin yang pagi adalah hal yang tidak pernah selesai ditinggali.

Dengan kamu

yang

jemu.

 

4 Januari 2015, di sebuah kota yang masih saja bising dan terkadang asing.