Saya sangat suka saat kamu diam-diam menjelma kunang-kunang di malam yang begini.
Petang yang paling terang, katamu.
Lalu kamu pergi keliling kota untuk mencari bangku yang saya duduki siang tadi.
Saya tidak tahu apa yang akan kamu tangkapi.
Lalu kamu cerita kamu akan menangkap bau yang penting dan pulang sebelum pening.
Bau di saat saya menungguimu memandangi ilalang dan belalang hingga langit memetang, katamu.
Untuk apa? Saya tanya.
Digenggam, katamu.
Muka saya masih datar ketika kamu melihatkan punggung dan menghilang terbang di antara petang yang regang.
Lalu saya menungguimu kembali dengan bau yang persis sama agar kamu dapat mengingat jalan pulang, tenang saja, saya di gerbang paling tepi, di sudut terrendah sebelum kamu meninggi pergi.
Saya menunggumu dengan diam, karena sepi yang menang.
Lalu kamu datang, bukan pulang. Kamu marah, karena bau yang kamu cari saya pakai di sini, bukan di bangku siang tadi.
Kemudian kamu mengeluarkan plastik dari sakumu, mengambil bauku.
Saya tanya. Untuk apa?
Digenggam, katamu.
Saya tanya. Untuk?
Digenggam, katamu.
Saya tanya. Lalu kamu menjawab sebelum saya selesai dengan mulut saya. Digenggam, katamu.
Lalu saya tidak lagi tanya. Tapi kamu menjawab saya.
untuk mengingat bahwa saya setia, jawabmu.
